Revolusi Ancam AS

February 8, 2010 by: admin

Presiden Amerika Serikat, Barack Obama akhirnya mengakui bahwa rakyatnya marah atas kondisi yang ada. Pernyataan ini dikemukakan Obama hari Sabtu (6/2) di komite nasional Partai Demokrat. Ditandaskannya, warga AS sangat marah atas kondisi negara saat ini. “Saya akui bahwa kita telah melalui tahun yang sulit,” kata Obama. Pengakuan ini dijadikan kesempatan oleh Sarah Palin untuk menyerang Obama. Ia mengatakan sudah saatnya revolusi terjadi di negara ini.

Sarah Palin, kandidat wakil presiden yang kalah dari kubu Republik mengungkapkan ketidakpuasan warga AS. “Kini sudah tiba saatnya revolusi digulirkan dan kebijakan neo-Konservatif harus kembali dihidupkan,” demikian ungkap Palin. Transformasi beberapa pekan lalu di AS mengindikasikan perang politik di negara ini meningkat drastis.

Sepertinya dua kubu Neo-Konservatif dan Liberal AS menyikapi serius ketidakpuasan warga demi kemajuan program mereka. Kubu Liberal menilai krisis yang ada seperti keterpurukan ekonomi, pengangguran, manajemen buruk di Wallstreet dan meningkatnya kemiskinan adalah buah dari kebijakan Neo-Konservetif selama dua dekade. Mereka juga menganggap kemenangan yang diraihnya pada tahun 2008 disebabkan kemarahan warga terhadap kubu Neo-Konservatif. Oleh karena itu, Obama dituntut mempercepat program perbaikannya di sektor potlitik, ekonomi dan sosial.

Sementara itu, kubu Neo-Konservatif balik menuding rivalnya sebagai sebab memburuknya kondisi AS. Mereka menyebut kubu Liberal ancaman bagi identitas nasional dan sistem perekonomian AS. Mereka yakin seorang sosialis telah bercokol di Gedung Putih dan berupaya mengobrak-abrik sistem yang ada di negara ini. Oleh karena itu, Palin menginginkan revolusi Neo-Konservatif di AS. Mereka berambisi menggulingkan Obama dengan mengerahkan jutaan warga yang tak puas atas krisis ekonomi. Di sisi lain, kubu Liberal Demokrat bertekad mempertahankan posisinya dengan cara apapun.

Tak diragukan lagi pergolakan di Washington ini akan berujung pada krisis politik dan sosial di seluruh AS. Sebagaian pengamat memprediksikan bahwa dalam pergolakan ini yang akan keluar sebagai pemenang adalah kelompok radikal baik dari sayap kanan maupun kiri. Sejumlah lainnya berpendapat hal ini akan berujung pada penghapusan kubu besar di AS.

Yang pasti, kini warga AS geram atas kinerja baik partai Republik maupun Demokrat yang senantiasa melanggar janji-janjinya. Selanjutnya muncul kecenderungan warga yang lebih memilih gerakan radikal maupun kelompok independen. Tentu saja fenomena ini sangat membahayakan kedua kubu raksasa AS ini yang tengah mempersiapkan diri menghadapi pemilu sela pada November mendatang. 16:44:52[irib]

Filed under: Berita, Hot News!, Luar Negeri
Tags: ,

Leave a Reply